Minggu, 25 November 2012

^_^

Diposting oleh Unknown di 07.22 0 komentar

Sabtu, 24 November 2012

kata-kata yang baik.. :)

Diposting oleh Unknown di 19.02 0 komentar

motivasi

Diposting oleh Unknown di 18.55 0 komentar



Minggu, 18 November 2012

Akademis dan Kurikulum

Diposting oleh Unknown di 02.33 0 komentar

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
            Indonesia sejak tahun 1998 merupakan era transisi dengan tumbuhnya proses demokrasi. Demokrasi juga telah memasuki dunia pendidikan nasional antara lain dengan lahirnya Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam bidang pendidikan bukan lagi merupakan tanggung jawab pemerintah pusat tetapi diserahkan kepada tanggung jawab pemerintah daerah sebagaimana diatur dalam Undang – Undang No 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, hanya beberapa fungsi saja yang tetap berada di tangan pemerintah pusat. Perubahan dari sistem yang sentralisasi ke desentralisasi akan membawa konsekuensi-konsekuensi yang jauh di dalam penyelenggaraan pendidikan nasional.
            Selain perubahan dari sentralisasi ke desentralisasi yang membawa banyak perubahan juga bagaimana untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia dalam menghadapi persaingan bebas abad ke-21. Kebutuhan ini ditampung dalam Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, serta pentingnya tenaga guru dan dosen sebagai ujung tombak dari reformasi pendidikan nasional.
            Sistem Pendidikan Nasional Era Reformasi yang diatur dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 diuraikan dalam indikator-indikator akan keberhasilan atau kegagalannya, maka lahirlah Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang kemudian dijelaskan dalam Permendiknas RI.
            Di dalam masyarakat Indonesia dewasa ini muncul banyak kritikan baik dari praktisi pendidikan maupun dari kalangan pengamat pendidikan mengenai pendidikan nasional yang tidak mempunyai arah yang jelas. Dunia pendidikan sekarang ini bukan merupakan pemersatu bangsa tetapi merupakan suatu ajang pertikaian dan persemaian manusia-manusiaa yang berdiri sendiri dalam arti yang sempit, mementingkan diri dan kelompok. Maka dari itu perlu kiranya kami bahas tentang kualitas pendidikan dan upaya-upaya peningkatan Kualitas pendidikan.



BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Pendidikan
Pendidikan adalah  proses perubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan (Depdikbud, 1999 : 232). Menurut UU RI tahun 1989 dikatakan bahawa pendidikan adalah merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan dating.
Carter V Good (dalam Djumberansyah, 1994: 17) mengemukakan bahwa pendidikan memiliki pengertian sebagai berikut :
1.            The aggregate of all the processes by wich aperson develop abilities, and other foems of behavior of positive value in the society in wich he lives.( Proses perkembangan kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan prilaku dalam masyarakatnya)
2.            The social process by which people are subjected to the influence of a selected and controlled environtment (especially that school) so they may attain social competence and optimum individual development.  (Proses social dimana seseorang dipengfaruhi oleh sesuatu lingkungan yang terpimpin (misalnya sekolah) sehingga ia dapat mencapai kecakapan social dan mengembangkan pribadinya.
Pendidikan nasional didefinisikan sebagai "Pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan Nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. (UU No.20 tahun 2003 Pasal 1 ayat 2).


B.      Unsur –unsur  pokok sistem pendidikan nasional
Organisme yang dirancang dan dibangun strukturnya secara sengaja, yang terdiri dari komponen-kumponen yang berhubungan dan berinteraksi satu sama lain yang harus berfungsi sebagai suatu kesatuan yang utuh untuk mencapai tujuan khusus yang telah ditetapkan sebelumnya". Suatu sistem memiliki tiga unsur pokok:
A.                Tujuan
B.                 isi atau  komponen
C.                 proses
 a.   Rumusan tujuan pendidikan nasional dalam Undang-undang No. 2 Tahun 1989.   Pasal 4 undang-undang tersebut  menyatakan  bahwa :
Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa dan yang berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
b. Komponen-komponen sistem pendidikan nasional tersebut dapat dibagi dalam dua golongan besar yaitu Satuan Pendidikan Sekolah dan Satuan Pendidikan Luar Sekolah.Satuan Pendidikan Sekolah merupakan bagian dari  sistem pendidikan yang bersifat formal, berjenjang dan berkesinambungan, Dilihat dari jenjangnya, pendidikan sekolah dapat dibagi menjadi Pendidikan Prasekolah, Pendidikan Dasar,Pendidikan Menengah dan Pendidikan Tinggi .Suatu pendidikan Luar Sekolah yang meliputi pendidikan dalam keluarga,kursus dan lainnya.
.Kurikulum  
adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (UU No.20 tahun 2003 pasal 1 ayat 19).Dan kurikulum diatur juga dalam UU No.2 tahun 1989 Pasal 37,38 & 39.
Kurikulum merupakan elemen strategis dalam sebuah layanan program pendidikan. Ia adalah ’cetak biru’ (blue print) atau acuan bagi segenap pihak yang terkait dengan penyelenggaraan program. Dalam konteks ini dapatlah dikatakan bahwa kurikulum yang baik semestinya akan menghasilkan proses dan produk pendidikan yang baik. Sebaliknya, kurikulum yang buruk akan membuahkan proses dan hasil pendidikan yang juga jelek.
Persoalannya, hubungan antara kurikulum (sebagai rencana atau doku-men) dengan proses dan hasil pendidikan (kurikulum sebagai aksi dan produk) tidaklah bersifat linear. Terlalu banyak faktor yang mempengaruhinya. Pertama, sebagai suatu sistem, mutu sebuah kurikulum akan ditentukan oleh proses perancangan, pengembangan, pelaksanaan, dan evaluasinya. Kedua, secara programatik, kualitas sebuah kurikulum ditentukan oleh kesanggupannya dalam mempertanggungjawabkan pelbagai keputusan yang diambil, baik secara keilmuan, moral, sosial, dan praktikal. Ketiga, secara pragmatik, nilai sebuah kurikulum ditentukan oleh kemampuannya dalam memberikan layanan pendidikan yang dapat mendorong peserta didik untuk dapat mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan, baik oleh peserta didik sendiri maupun oleh masyarakat dan sistem sosial. Dari perspektif manajemen mutu terpadu (Total quality management) ---- yang telah lama diterapkan dalam mengelola lembaga pendidikan----- pendidikan adalah jasa layanan. Sebagai sebuah jasa layanan, keberhasilan suatu program pendidikan ditentukan oleh kesanggupannya dalam memenuhi kepuasan pengguna (customer satisfaction). Indikator kepuasan itu, demikian dinyatakan ahli manajemen mutu seperti Deming dan Juran, ditetapkan oleh kesanggupan layanan pendidikan dalam memenuhi harapan, keinginan, dan kebutuhan pengguna (peserta didik dan pemangku kepentingan). Itu berarti, kurikulum yang baik adalah kurikulum yang berorientasi akhir pada kebutuhan dan kepuasan pengguna.
Atas dasar itu pula dapatlah ditegaskan di sini bahwa kurikulum yang baik dan bermakna adalah kurikulum yang dikembangkan dengan beranjak dari hakikat pendidikan termasuk pendidikan menengah umum (pengertian dan tujuan), hakikat pebelajar, hakikat belajar dan pembelajaran, hakikat muatan, serta kesanggupan lulusan pendidikan dalam menghadapi secara layak dinamika kehidupan yang akan datang. Namun demikian, mengingat tujuan dan ciri setiap kelompok usia sekolah pada masing-masing satuan pendidikan itu berbeda-beda, adalah sebuah kenisyaan jika pengembangan dan pelaksanaan kurikulum itu mengakomodasi setiap perbedaan atau keunikan yang ada.
Mengapa serumit dan selengkap itu pijakan yang digunakan? Karena sekolah bukan sekedar kebutuhan edukasi formalistik. Sekolah adalah kawah candradimuka yang akan membantu peserta didik dalam mengembangkan potensi dan membentuk dirinya secara optimal menjadi pribadi dan anggota komunitas yang memiliki kesanggupan dan kecakapan untuk hidup produktif dan bermakna tanpa tercerabut dari hakikat kemanusiaan dan kehambaannya terhadap Sang Maha Agung.
Beranjak pada pelbagai faktor penentu kualitas kurikulum dan pemikiran tersebut, melalui makalah ini, penulis berupaya untuk menggambarkan secara konseptual mengenai karakteristik dan tuntutan terhadap pendidikan sekolah menengah umum (PMU), model kurikulum yang sesuai khususnya untuk mewadahi layanan pembelajaran Bahasa Indonesia, serta imlementasi kurikulum dalam tataran praksis pendidikan di sekolah.
Pokok-pokok pikiran dalam tulisan ini akan dikemas dalam tiga bagian pokok. Bagian pertama akan membahas karakteristik PMU (tujuan pendidikan, karakter peserta didik, dan muatan pendidikan) serta tuntutan terhadap PMU, yang berhubungan dengan keluaran, kebutuhan, dan pengelolaan pendidikan. Bagian kedua memaparkan model kurikulum dan pembelajaran pada PMU, yang di antaranya dikaitkan dengan bidang studi Bahasa Indonesia. Bagian Ketiga, menguraikan sketsa tentang implementasi kurikulum pada level PMU, khususnya yang berkaitan dengan bidang studi Bahasa Indonesia.
c.   Proses Sistem Pendidikan Nasional adalah mekanisme kerja dalam bentuk berbagai ketentuan, aturan, maupun prosedur yang memungkinkan seluruh komponen sistem pendidikan dapat bekerja dan menunaikan fungsi untuk mencapai tujuan yang te1ah ditetapkan.
Pengertian Kualitas Pendidikan
  Arti dasar dari kata kualitas menurut Dahlan Al-Barry dalam Kamus Modern Bahasa Indonesia adalah “kualitet”: “mutu, baik buruknya barang”[1][1]. Seperti halnya yang dikutip oleh Quraish Shihab yang mengartikan kualitas sebagai tingkat baik buruk sesuatu atau mutu sesuatu
  Sedangkan kalau diperhatikan secara etimologi, mutu atau kualitas diartikan dengan kenaikan tingkatan menuju suatu perbaikan atau kemapanan. Sebab kualitas mengandung makna bobot atau tinggi rendahnya sesuatu. Jadi dalam hal ini kualitas pendidikan adalah pelaksanaan pendidikan disuatu lembaga, sampai dimana pendidikan di lembaga tersebut telah mencapai suatu keberhasilan. Menurut Supranta kualitas adalah sebuah kata yang bagi penyedia jasa merupakan sesuatu yang harus dikerjakan dengan baik.Sebagaimana yang telah dipaparkan oleh Guets dan Davis dalam bukunya Tjiptono menyatakan kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan.Kualitas pendidikan menurut Ace Suryadi dan H.A.R Tilaar merupakan kemampuan lembaga pendidikan dalam mendayagunakan sumber-sumber pendidikan untuk meningkatkan kemampuan belajar seoptimal mungkin.
  Di dalam konteks pendidikan, pengertian kualitas atau mutu dalam hal ini mengacu pada proses pendidikan dan hasil pendidikan. Dari konteks “proses” pendidikan yang berkualitas terlibat berbagai input (seperti bahan ajar: kognitif, afektif dan, psikomotorik), metodologi (yang bervariasi sesuai dengan kemampuan guru), sarana sekolah, dukungan administrasi dan sarana prasarana dan sumber daya lainnya serta penciptaan suasana yang kondusif. Dengan adanya manajemen sekolah, dukungan kelas berfungsi mensingkronkan berbagai input tersebut atau mensinergikan semua komponen dalam interaksi (proses) belajar mengajar, baik antara guru, siswa dan sarana pendukung di kelas atau di luar kelas, baik dalam konteks kurikuler maupun ekstra-kurikuler, baik dalam lingkungan substansi yang akademis maupun yang non akademis dalam suasana yang mendukung proses belajar pembelajaran.
  Kualitas dalam konteks “hasil” pendidikan mengacu pada hasil atau prestasi yang dicapai oleh sekolah pada setiap kurun waktu tertentu (apakah tiap akhir cawu, akhir tahun, 2 tahun atau 5 tahun, bahkan 10 tahun). Prestasi yang dicapai atau hasil pendidikan (student achievement) dapat berupa hasil test kemampuan akademis, misalnya ulangan umum, EBTA atau UN. Dapat pula prestasi dibidang lain seperti di suatu cabang olah raga, seni atau keterampilan tambahan tertentu. Bahkan prestasi sekolah dapat berupa kondisi yang tidak dapat dipegang (intangible) seperti suasana disiplin, keakraban, saling menghormati, kebersihan dan sebagainyaSelain itu kualitas pendidikan merupakan kemampuan sistem pendidikan dasar, baik dari segi pengelolaan maupun dari segi proses pendidikan, yang diarahkan secara efektif untuk meningkatkan nilai tambah dan factor-faktor input agar menghasilkan output yang setinggi-tingginya.
  Jadi pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang dapat menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dasar untuk belajar, sehingga dapat mengikuti bahkan menjadi pelopor dalam pembaharuan dan perubahan dengan cara memberdayakan sumber-sumber pendidikan secara optimal melalui pembelajaran yang baik dan kondusif. Pendidikan atau sekolah yang berkualitas disebut juga sekolah yang berprestasi, sekolah yang baik atau sekolah yang sukses, sekolah yang efektif dan sekolah yang unggul. Sekolah yang unggul dan bermutu itu adalah sekolah yang mampu bersaing dengan siswa di luar sekolah. Juga memiliki akar budaya serta nilai-nilai etika moral (akhlak) yang baik dan kuat.
  Pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang mampu menjawab berbagai tantangan dan permasalahan yang akan dihadapi sekarang dan masa yang akan datang. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kualitas atau mutu pendidikan adalah kemampuan lembaga dan sistem pendidikan dalam memberdayakan sumber-sumber pendidikan untuk meningkatkan kualitas yang sesuai dengan harapan atau tujuan pendidikan melalui proses pendidikan yang efektif. Pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas, yaitu lulusan yang memilki prestasi akademik dan non-akademik yang mampu menjadi pelopor pembaruan dan perubahan sehingga mampu menjawab berbagai tantangan dan permasalahan yang dihadapinya, baik di masa sekarang atau di masa yang akan datang (harapan bangsa).
Ada empat (4) standar kualitas pendidikan dalam urutan prioritasnya adalah sebagai berikut : guru (teacher), kurikulum (curriculum), atmosfer akademik (academic atmosphere), dan sumber keilmuan (academic resou
Berikut ini uraian dari standar kualitas diatas :
1. Guru (Teacher)
  Mutu pendidikan amat ditentukan kualitas dan komitmen seorang guru. Profesi guru menjadi tidak menarik di banyak daerah karena tidak menjanjikan kesejahteraan finansial dan penghargaan profesional. Oleh karena itu, dengan dirumuskannya jenjang profesionalitas yang jelas, maka kualitas guru-guru dapat dijaga dengan baik. Tentunya hal ini juga berkaitan dengan penghargaan profesionalitas yang didapat dalam setiap jenjang tersebut.
  Guru juga harus bertanggung jawab dalam membangun atmosfer akademik di dalam kelas. Atmosfer ini sebenarnya bertujuan untuk membentuk karakter siswa terutama berkaitan dengan nilai-nilai akademik utama yaitu sikap ilmiah dan kreatif. Guru perlu menekankan nilai-nilai inti yang berhubungan dengan pengembangan sikap ilmiah dan kreatif dalam setiap tugas yang diberikan kepada siswanya, dalam membimbing siswa memecahkan suatu persoalan atau juga dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dari siswa. Untuk dapat mengajar secara efektif, maka guru-guru akan ditraining secara kontinyu (bukan hanya sekali saja) dan terutama akan dibekali pengetahuan tentang cara mengajar yang baik dan bagaimana cara menilai yang efektif. Sehingga diharapkan guru tersebut dapat mengembangkan cara mengajarnya sendiri, dapat meningkatkan pengetahuan mereka sendiri dan juga dapat berkolaborasi dengan guru yang lain.


2. Kurikulum (Curriculum)
  Kurikulum di sini bukan sekedar kumpulan aktivitas saja, ia harus koheren antara aktivitas yang satu dengan yang lain. Dalam kurikulum, juga harus diperhatikan bagaimana menjaga agar materi-materi yang diberikan dapat menantang siswa sehingga tidak membuat mereka merasa bosan dengan pengulangan-pengulangan materi saja. Tentu saja hal ini bukan berarti mengubah-ubah topik yang ada tetapi lebih kepada penggunaan berbagai alternatif cara pembelajaran untuk memperdalam suatu topik atau mengaplikasikan suatu topik pada berbagai masalah riil yang relevan.
  Kurikulum juga harus memuat secara jelas mengenai cara pembelajaran (learning) dan cara penilaian (assesment) yang digunakan di dalam kelas. Cara pembelajaran yang dijalankan harus membuat siswa memahami dengan benar mengenai hal-hal yang mendasar. Pemahaman ini bukan hanya berdasarkan hasil dari pengajaran satu arah dari guru ke siswa, tetapi lebih merupakan pemahaman yang muncul dari keaktifan siswa dalam membangun pengetahuannya sendiri dengan merangkai pengalaman pembelajaran di kelas dan pengetahuan yang telah dimilikinya sebelumnya.
3. Atmosfer Akademik (Academic Atmosphere)
  Atmosfer akademik bertujuan untuk membentuk karakter siswa terutama berkaitan dengan nilai-nilai akademik utama yaitu sikap ilmiah dan kreatif. Atmosfer ini dibangun dari interaksi antar siswa, dari interaksi antara siswa dengan guru, interaksi dengan orang tua siswa dan juga suasana lingkungan fisik yang diciptakan. Guru memegang peran sentral dalam membangun atmosfer akademik ini dalam kegiatan pengajarannya di kelas dan berlaku untuk semua yang terlibat dalam sistem pendidikan.
  Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana membangun sikap ilmiah dan kreatif ini dalam kegiatan operasional pendidikan sehari-harinya? Untuk ini kita perlu menyadari nilai-nilai inti yang harus ditanamkan ke semua komponen yang terlibat dalam kegiatan pendidikan yang diselenggarakan. Sikap ilmiah yang dimaksud adalah sikap yang menghargai hasil-hasil intelektual baik yang berasal dari dirinya sendiri maupun orang lain, disamping kritis dalam menerima hasil-hasil intelektual tersebut. Sedangkan sikap kreatif disini mempunyai maksud sikap untuk terus-menerus mengembangkan kemampuan memecahkan soal dan mengembangkan pengetahuan secara mandiri.
  Untuk membangun Sikap Ilmiah perlu ditanamkan nilai kejujuran (honesty), dan nilai kekritisan (skeptics). Sedangkan untuk membangun sikap kreatif perlu ditanamkan nilai ketekunan (perseverence), dan nilai keingintahuan (curiosity).
  Selanjutnya nilai-nilai inti ini perlu diterjemahkan dalam berbagai kode etik yang menjadi pedoman dalam kegiatan operasional pendidikan sehari-hari, seperti larangan keras mencontek, dorongan untuk mengemukakan pendapat dan bertanya, penghargaan atas perbedaan pendapat, penghargaan atas kerja keras, dorongan untuk memecahkan soal sendiri, keterbukaan untuk dikoreksi dan seterusnya. Aktivitas-aktivitas ini selanjutnya harus dilakukan setiap hari dan terus dipantau perkembangan oleh mereka yang diberi kewenangan penuh.

4. Sumber Keilmuan (Academic Resource)
  Sumber Keilmuan disini adalah berupa prasarana dalam kegiatan pengajaran, yaitu buku, alat peraga dan teknologi. Semua hal ini harus dapat dieksploitasi dengan baik untuk mendukung setiap proses pengajaran dan juga dalam membangun atmosfer akademik yang hendak diciptakan. Apalagi pengajaran menganut pendekatan yang kongkrit, maka guru harus dapat menggunakan hal-hal yang umum disekitar kita seperti: mata uang dan jam, sebagai alat peraga.





BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.   Kualitas pendidikan adalah pelaksanaan pendidikan disuatu lembaga, sampai dimana pendidikan di lembaga tersebut telah mencapai suatu keberhasilan.
2.    Mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP.) No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Standar nasional pendidikan diatas, ada delapan (8) hal yang harus diperhatikan untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas, yaitu : standar isi, standar proses, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, standar penilaian pendidikan,
3.    Upaya peningkatan kualitas pendidikan dapat di tempuh dengan beberapa cara antara lain: peningkatan kualitas guru, peningkatan materi, peningkatan dalam pemakaian metode, peningkatan sarana, peningkatan kualitas belajar.
 Saran
Perkembangan dunia di era globalisasi ini memang banyak menuntut perubahan kesistem pendidikan nasional yang lebih baik serta mampu bersaing secara sehat dalam segala bidang. Salah satu cara yang harus di lakukan bangsa Indonesia agar tidak semakin ketinggalan dengan negara-negara lain adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikannya terlebih dahulu.
Dengan meningkatnya kualitas pendidikan berarti sumber daya manusia yang terlahir akan semakin baik mutunya dan akan mampu membawa bangsa ini bersaing secara sehat dalam segala bidang di dunia internasional.




DAFTAR PUSTAKA
M. Dahlan Al Barry, Kamus Modern Bahasa Indonesia, Arloka, Yogyakarta, 2001: 329
Quraish. Shihab, Membumikan Al-Quran, Mizan, Bandung, 1999: 280
Jurnal Ilmu Pendidikan Mutu Pendidikan Sekolah Dasar Di Daerah Diseminasi oleh A. Supriyanto, November 1997, Jilid 4, IKIP, 1997: 225





definisi pemikiran

Diposting oleh Unknown di 02.26 0 komentar

1.      Definisi pemikiran
Menurut  jhon barell (1991) pemikiran adalah proses  mencari makna serta usaha  mencapai keputusan yang wajar. secara etimologi pemikiran adalah berarti proses, cara atau perbuatan memikir; yaitu menggunakan budi untuk memutuskan suatu persoalan dengan mempertimbangkan segala sesuatu dengan bijaksana. Secara terminologis bahwa pemikiran pendidikan Islam pada hakikatnya adalah konsep berfikir tentang kependidikan yang bersumber atau belandaskan pada ajaran Islam tentang hakikat kemampuan manusia untuk dapat dibina dan dikembangkan serta dibimbing menjadi muslim yang seluruh pribadinya dijiwai oleh ajaran Islam.
2.      Berpijak dari definisi di atas maka yang dimaksud dengan pemikiran pendidikan Islam adalah serangkaian proses kerja akal dan kalbu yang dilakukan secara bersungguh-sungguh dalam melihat berbagai persoalan yang ada dalam pendidikan Islam dan berupaya untuk membangun sebuah paradigma pendidikan yang mampu menjadi wahana bagi pembinaan dan pengembangan peserta didik secara paripurna. Melalui upaya ini diharapkan agar pendidikan yang ditawarkan mampu berapresiasi terhadap dinamika peradaban modern secara adaptik dan proporsional, tanpa harus melepaskan nilai-nilai Ilahiyah sebagai nilai warna dan nilai control.
3.      Pemikiran Islam mempunyai beberapa ciri khas, antara lain: bersifat komprrehensif (syumuliyah), luas, praktis (amally), dan manusiawi.
a.       Karakter pertama: Bersifat Komperehensif
Pemikiran Islam mengatur semua aspek kehidupan manusia, seperti politik, sosial kemasyarakatan, perekonomian, kebudayaan dan akhlak. Islam hadir dengan membawa aturan yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan tuhannya, dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain. Aturan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya tercakup dalam perkara akidah dan ibadah. Sedangkan aturan yang mengatur hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri tercakup dalam hukum-hukum tentang makanan, pakaian, dan akhlak. Selebihnya adalah aturan yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lain, seperti perkara muamalah ekonomi dan sosial, sanksi-sanksi hukum bagi para pelanggar hukum (uqubat), politik ketatanegaraan, pertahanan dan keamanan, politik luar negeri dengan dakwah dan jihad fi sabilillah. Allah SWT berfirman:
“Kami telah menurunkan kepadamu al-Kitab (yaitu al-Qur’an) sebagai penjelas segala sesuatu.” (Qs. an-Nahl [16]: 89).
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Kucukupkan untuk kalian nikmat-Ku.’ (Qs. al-Mâ’idah [5]: 3).
Setelah memahami kedua ayat di atas seorang muslim tidak boleh menyatakan bahwa, ada sebagian perbuatan manusia yang tidak ada status hukumnya dalam Islam. Semua persoalan dari sejak Islam turun ke bumi 15 abad yang lalu hingga hari kiamat, semua masalah pasti tercakup dalam perkara yang dipecahkan oleh Islam. Kalau sekilas saja kita membaca buku-buku fiqih, kita akan mendapatkan bahwa masalah yang dipecahkan oleh syariah itu tidak hanya masalah ritual belaka, tapi seluruh masalah kehidupan.
b.      Karakter kedua: Bersifat Luas
Keluasan pemikiran Islam memungkinkan Para Ulama untuk melakukan istinbath (menggali) hukum-hukum syari’iy dari nash-nash syariat-syariat tentang perkara baru apapun jenisnya, baik perbuatan ataupun benda. Dalil-dalil syariat hadir dalam bentuk gaya bahasa yang mampu mencakup perkara apa saja hingga hari kiamat. Apabila ditanyakan kepada seorang muslim hingga saat ini, apa dalil syariat tentang kebolehan mengendarai roket, pesawat atau kapal selam, kemudian ia meneliti dalil-dalil syariat untuk mengetahui hukumnya, niscaya dia akan menemukannya dalam firman Allah:
“Dia menundukan untuk kalian apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semua.” (Qs. al-Jâtsiyah [45]:13).
“Suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa kami mengangkut keturunan mereka dalam ahtera yang penuh muatan dan kami menciptakan bagi mereka kendaraan seperti bahtera itu.” (Qs. Yâsîn [36]: 41 – 42 ).
Jika ada yang menanyakan, apakah umat Islam boleh memiliki bom atom, maka dia akan menjumpai hukum syara tentang itu, dalam firman Allah:
“Siapkanlah untuk menghadapi mereka, kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian.” (Qs. al-Anfâl [8]: 60).
Sebab, arah dari perintah Allah SWT dalam Qs. al-Anfâl [8]: 60 tersebut adalah untuk menakut-nakuti musuh (irhabul aduww). Kalau di masa lalu, adanya pasukan berkuda (al khail) adalah efektif untuk menakut-nakuti musuh, karena pasukan kavaleri yang ada pada waktu itu adalah pasukan berkuda. Di masa sekarang, pasukan kavaleri bisa berkendaraan panser atau yang lain. Dan untuk menakut-nakuti musuh di masa sekarang, bisa dilakukan dengan parade kapal induk, pesawat tempur supersonik yang dilengkapi dengan rudal berkepala nuklir, dan persenjataan canggih lainnya.
c.       Karakter ketiga: Bersifat Praktis (‘Amaliy)
Hukum-hukum Islam hadir untuk diterapkan dan dilaksanakan ditengah-tengah kehidupan. Manusia tidak akan dibebani melebihi yang dia sanggupi. Allah berfirman:
“Allah tidak membebani seseorang kecuali dengan kesanggupannya.” (Qs. al-Baqarah [2]: 286).
Pada sebagian besar ayat-ayat al-Quran, Allah swt telah mengaitkan amal dengan iman seperti firman Allah:
“Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh.” (Qs. al-Ashr [103]: 1 – 3).
“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang mengerjakan amal shaleh, bahwa sungguh Dia akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi.” (Qs. an-Nûr [24]: 55).
Pemikiran Islam telah diterapkan di tengah-tengah manusia selama 13 abad, dalam naungan negara besar di dunia, Daulah Khilafah Islamiyah. Pemikiran-pemikiran islam yang dituangkan dalam hukum syariah yang sudah pernah diterapkan adalah: hukum syariah tentang pemerintahan (nizhamul hukm fil Islam), hukum syariah tentang ekonomi (nizhamul iqtishadi fil Islam), hukum syariah tentang hubungan sosial atau aturan pergaulan pria wanita (an nizhamul ijtima’i fil Islam), hukum-hukum syariah tentang kebijakan pendidikan (siyasah at ta’lim fil Islam), hukum-hukum syariah tentang politik luar negeri negara islam (siyasah kharijiyah lid daulah al Islamiyah).
Fakta-fakta sejarah tentang penerapan kelima aspek di atas tak bisa dibantah. Alkisah di dalam diskusi di Harvard University ada seorang cendekiawan Indonesia pernah mengatakan bahwa negara Khilafah itu sesungguhnya tidak ada. Maka seorang cendekiawan muslim dari Turki yang menjadi dosen di universitas bergengsi di AS itu bertanya: Lalu negara apa yang diumumkan pembubarannya oleh Kamal At Taturk pada tahun 1924 yang lalu itu?
d.      Karakter Keempat: Bersifat Manusiawi
Islam menyeru kepada manusia dalam kapasitasnya sebagai manusia, tanpa melihat lagi ras atau warna kulitnya. Firman Allah swt:
“Hai manusia beribadahlah kepada Tuhan kalian….” (Qs. al-Baqarah [2]: 21).
“Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku (Muhammad) adalah utusan Allah untuk kalian semua’.” (Qs. al-A’râf [7]: 158).
“Katakanlah: ‘Hai manusia sesungguhnya kami telah menjadikan kalian terdiri dari laki-laki dan perempuan dan kami telah menjadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya kamu saling kenal-mengenal’.” (Qs. al-Hujurât [49]: 13).
Rasulullah bersabda:
“Aku diutus untuk orang-orang yang berkulit merah maupun berkulit hitam.”
Orang-orang selain orang Arab pun telah beriman pada agama ini, seperti Persia, Romawi, Asia Tengah, India, Indonesia dan sebagainya. Demikianlah, Islam telah mengeluarkan mereka dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya hidayah, dari keterpurukan menuju kebangkitan.



makalah sejarah pendidikan islam

Diposting oleh Unknown di 02.22 0 komentar

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar  Belakang
Sejarah merupakan  rangkaian peristiwa yang  dapat dipahami dengan  cara tertentu. Oleh  karena itu pengertian sejarah  terkait dengan masa silam pengalaman manusia dalam  berbagai segi kehidupan, seperti ekonomi, sosial, politik,  dan pendidikan  yanag  merefleksi pada kehidupan masa kini. Dengan  demikian , sejarah selain memusatkan  pada masa silam pengalaman manusia, juga pada masa kini  pengalaman manusia. Dengan  perkataan lain, sejarah mencoba  memahami  perkembangan  pengalaman manusia dari dulu  sampai sekarang.
B.     Rumusan Masalah
1.      Sejarah Islam di Sumatera
2.      Sejarah Islam di Jawa
3.      Sejarah Islam di Maluku
4.      Sejarah Islam di Kalimantan
5.      Sejarah Islam di Sulawesi
6.      Sejarah Islam di Nusa Tenggara

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sejarah Islam di Sumatera
1.      Sejarah Islam di Aceh
Berdasarkan seminar sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Aceh yang berlangsung di Banda Aceh pada tahun 1978, dinyatakan bahwa kerajaan Islam pertama adalah Perlak, Lamuri, dan Pasai. Masa Kerajaan Islam merupakan salah satu dari periodesisasi perjalanan sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Hal ini karena lahirnya  kerajaan Islam yang disertai berbagai kebijakan dari penguasanya saat itu sanagat mewarnai sejarah Islam di Indonesia. Terlebih-lebih, Agama Islam juga pernah dijadikan sebagai Agama resmi Negara/ Kerajaan pada saat itu.
Adapun Kerajaan-kerajaan Islam yang ada di Aceh antara lain sebagai berikut :
a)      Kerajaan Samudera Pasai
Kerajaan ini berdiri pada abad ke-10  m/3 H. Raja pertamanya adalah Al-Malik Ibrahim bin Mahdum yang kedua bernama Al-Malik al- shaleh, dan yang terakhir kerajaan Islam pertama di Indonesia ( daerah Aceh). Namun ada juga yang menyatakan bahwa kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan Perlak, tetapi tidak banyak ditemukan bukti-bukti kuat yang mendukung fakta sejarah ini.

b)      Kerajaan Perlak
Kerajaan Perlak merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di Indonesia. Bahkan, ada yang menyatakan lebih dahulu dari kerajaan Samuderta Pasai. Namun, sebagaimana dikemukakan terdahulu, tidak banyak bahan pustaka yang menguatkan pendapat tersebut. Sultan Mahdun Alaudin Muhammad Amin yang memerintah antara tahun 1243-1267 M tercatat sebagai Sultan keenam. Ia terkenal  sebagai sultan yang arif bijakasana dan alim, sekaligus seorang ulama.
Di Perlak pun terdapat suatu lembaga pendidikan lainya berupa majelis taklim tinggi, yang dihadiri khusus para murid yang alim dan mendalam ilmunya.

c)      Kerajaan Aceh Darussalam (1511-1874)
Kerajaan Aceh Darussalam yang diproklamasikan pada tanggal 12 Zulkaeda 916 H 91511 M menyatakan perang terhadap buta huruf dan buta ilmu. Hal ini merupakan tempaan sejak berabad-abad yang lalu, yang berlandaskan pendidikan Islam dan Ilmu pengetahuan. Proklamasi kerajaan Aceh Darussalam tersebut merupakan hasil peleburan kerajaan islam  Aceh di belahan barat dan kerajaan Islam samudera pasai di belahan timur. Putra Sultan Abiddin Syamsu Syah diangkat menjadi Raja dengan gelar Sultan Alauddin Ali Mughayat Syah  (1507 – 1522) pada abad ke-15, diberitakan oleh Cong Ho, Marco Polo, dan Ibnu Batutah bahwa di Aceh telah berdiri kerajaan Lamuri yang tunduk kepada Pidie.
Pada mulanya pusat pemerintahan terletak di satu tempat  yang dinamakan kampung ramni dan dipindahkan ke Darul kamal oleh Sultan Alaudin Inayat Johan syah ( 1408- 1465 M).Sultan Ali Mughayat syah adalah pembebas Aceh dari kekuasaan pidie. Dia dapat mengalahkan Sultan pidie ( Sultan Ahmad syah). Kekuasaan kerajaan ini sampai ke kerajaan pasai. Masa kemasan kerajaan ini terjadi pada masa Sultan Iskandar Muda ( 1607- 1636 M ).

d)     Kerajaan Siak
Sultan pertamanya adalah Abdul Jalil Rachmad syah yang memerintah sebagai Sultan  Siak l ( 1723- 1746 M). pada masa kerajaan Siak ll di bawah kekuasaan  Sultan Muhammad Abdul Jalil Muzafar syah (1746- 1765 M) adalah zaman panji-panji Islam berkibar di siak. Islam diperkirakan masuk ke siak pada abad ke- 12 M. Peranan kerajaan siak  dalam memperlambat proses imperialism barat sangat dominan. Begitu pula dalam hal pendidikan di siak telah berdiri Madrasah –madrasah  serta Sekolah-sekolah umum.
Demikianlah diantara kerajaan-kerajaan yang berada di sumatera yang berasaskan islam, perlu ditekankan  bahwa semua kerajaan tersebut telah mendukung penyiaran pendidikan islam, baik di sumatera atau pun  di luar daerah  sumatera.

2.      Sejarah Pendidikan Islam di Sumatera
a)         Pendidikan Islam di Minangkabau
Menurut sebagian ahli sejarah , Islam masuk ke minangkabau kira-kira tahun 1250 M, ulama yang termasyhur sampai sekarang sebagai  pembawa islam ke minangkabau  adalah Syekh Burhanudin yang dilahirkan sintuk pariaman tahun 1066 H / 1646 M dan wafat  tahun 111 H / 1691 M. dia tempat pendidikan  dan  pengajaran agama islam . Agama Islam masuk ke minangkabau melalui dua arah, yaitu :
i.        Dari malaka, melalui sungai siak dan sungai Kampar alu ke pusat minangkabau
ii.      Dari Aceh, melalui pesisir barat

b)         Pendidikan Islam di Jambi
Jambi adalah salah satu  daerah yang berpegang teguh pada ajaran  islam hal ini ‘hal ini dbuktika dengan bnyaknya pesantren/ madrsaah di jambi, seperti berikut :
1.      Pesantren / Madrasah Nurul Iman di Jambi
Pesantren ini didirikan pada tahun 1332H oleh H.Abdul Samad. Pada mulanya system yang digunakan  sama seperti Pesantren- Pesantren lainya, yaitu system Halaqoh
2.      Madrasah Sa’adatul Dara’in
Madrasah ini didirikan oleh H.ahmad syakur sistemnya sama dengan madrasah nurul iman. Murid-muridnya ± 300. Orang-orang dengan gurunya 20 orang di tahun 1957.
3.      Madrasah jauharain
Madrasah ini  didirikan pada tahun 1340 H oleh H.Abdul madjid
4.      Madrasah As’ad
Madrasah ini  didirikan oleh K.Abdul kadir pada tahun 1952 H



c)         Pendidikan Islam di Aceh
Sejak masuknya islam ke aceh sekitar tahun 1290 M. fase pendidikan islam lahir dan tumbuh dengan suburnya terutama dengan berdirinya kerajaan islam di pasai pesantren-pesantren pun dibangun dengan bantuan pihak pemerintah islam pada waktu itu. Syeikh abdul rouf adalah ulama yang menerjemahkan alqur’an ke dalam bahasa melayu. Tafsir alqur’an itu bernama Tarjamanul Mustafid Bil Jawi.

d)        Pendidikan Islam di Sumatra Utara
Pendidikan islam di sumatra utara ditandai oleh tumbuhnya berbagai pesantren-pesantren dan madrasah yang cukup qualified dakam mencetak kader penerus cita-cita bangsa dan agama. Diantara pesantren yang terkenal adalah esantren syekh hasan ma’sum di medan (1916M), Pesantern syekh abdul wahab sungai lumut, panai labuhan bilik (labuhan batu), pesantren abdul hamid tanjung balai, asahan dan pesantren syeikh sulaiman ad-tambusy (kualoh). Adapun madrasah yang terkenal adalah madrasah masrurah (1331H/1912M)

B.        Sejarah Perkembangan Islam dengan berdirinya madrasah

Aliran-aliran yang timbul akibat dari perkembangan tersebut saling berebutan pengaruh di kalangan umat islam,dan berusaha mengembangkan aliran dan mazhabnya masing-masing maka terbentuklah madrasah-madrasah dalam pengertian kelompok pikiran,mazhab atau aliran.itulah sebabnya sebagian besar madrasah di dirikan pada masa itu di hubungkan dengan nama-nama mazhab yang mashur pada masanya ,misalnya madrasah syafi’iyah,hanafiyah,malikiyah atau hambaliyah.

Berdasarkan dengan keterangan di atas ,jelaslah bahwa penggunaan istilah madrasah,sebagai lembaga pendidikan islam maupun sebagai aliran atau mazhab bukanlah sejak awal perkembangan islam,tetapi muncul setelah islam berkembang luas dan telah menerima pengaruh dari luar sehingga terjadilah perkem,bangan berbagai macam bidang ilmu pengetahuan dengan berbagai  macam aliran dan mazhabnya.
Pada awal perkembangan islam,terdapat dua jenis lembaga pendidikan dan pengajaran,yaitu kitab yang mengajarkan cara menulis dan membaca al-quran,serta dasar-dasar pokok ajaran islam kepada anak-anak yang merupakan pendidikan tingkat dasar.sedangkan mesjid dijadikan sebagai tingkat pendidikan lanjutan.pada masa itu yang hanya di ikuti oleh orang-orang dewasa dari mesjid-mesjid ini,lahirlah ulama-ulama besar yang ahli dalam bebagai ilmu pengetahuan islam,dan dari sini pula lah timbulnya aliran-aliran atau mazhab-mazhab dalam bebagai ilmu pengetahuan ,yang waktu itu dikenal dengan istilah madrasah.
Kegiatan para ulama dalam mengembangkan ajaran islam di tengah-tengah masyarakat islam maju dengan pesatnya,bahkan dari satu periode ke periode berikutnya semakin meningkat.
Untuk menampung kegiatan khalaqah yang semakin banyak,sejalan dengan meningkatnya jumlah pelajaran dan bidang ilmu pengetahuan yang di ajarkan,maka di bangunlah ruangan-ruangan khusus untuk kegiatan khalaqah atau pengajian tersebut di sekitar mesjid.  Disamping di bangun pula asrama khusus untuk guru dan pelajar,sebagai tempat tinggal dan tempat kegiatan belajar mengajar setiap hari secara teratur,yang dijadikan sebagai agama resmi Negara /kerajaan pada saat itu.

C.       Kontribusi Madrasah terhadap Indonesia yang berkaitan dengan berkembangnya islam

Sementara itu,madrasah boleh dikatakan sebagai fenomena baru dari lembaga pendidikan islam yang ada di Indonesia,yang kehadirannya sekitar permulaan abad ke-20 namun dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran nya masigh belum punya keseragaman antara daerah yang satu dengan daerah yang lain,terutama sekali menyangkut kurikulum dan rencana pelajaran.usaha kearah penyatuan dan penyeragaman system tersebut.,baru di rintis sekitar tahun 1950 setelah Indonesia merdeka.dan pada perkembangan nya madrasah terbagi kedalam jenjang-jenjang pendidikan,madrasah ibtidaiyah ,madrasah tsanawiyah dan madrasah aliyah.salah satu pilar pendidikan nasional adalah perluasan dan pemerataan akses pendidikan,upaya perluasan dan pemerataan akses pendidikan yang di tujukan dalam upaya perluasan daya tampung satuan pendidikan dengan mengacu pada  skala prioritas nasional yang memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh peserta didik dari berbagai golongan masyarakat yang beraneka ragam baik secara sosial, ekonomi, gender, geografis, maupun tingkat kemampuan intelektual dan kondisi fisik. Perluasan dan pemerataan akses memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi penduduk Indonesia yang dapat belajar sepanjang hayat dalam rangka penigkatan daya saing bangsa di era globalisasi.
Pendirian madrasah oleh para pemuka muslim di berbagai pelosok negeri memainkan peranan yang sangat penting dalam membuka akses bagi masyarakat miskin dan terpencil untuk memperoleh layanan pendidikan. Komitmen moral ini dalam kenyataan tidak pernah surut sehingga secara kelembagaan madrasah terus mengalami perkembangan yang sangat pesat hingga sekarang. Berdasarkan statistic pendidikan islam tahun 2007, lalu pertumbuhan madrsah dalam lima tahun terakhir mencapai rata-rata kisaran 3% pertahun dan lebih dari 50% madrasah berada di luar jawa yang terdistribusi di daerah pedesaan. Sumbangan ,madrasah dalam kontek perluasan akses dan pemerataan pendidikan tergambar secara jelas dalam jumlah penduduk usia sekolah yang menjadi peserta didik madrasah. Pada tahun 2007, jumlah seluruh peserta madrasah pada semua jenjang pendidikan sebesar 6.075210 peserta didik. Adapun angka partisipasi kasar (APK) madrasah terhadap jumlah penduduk usia sekolah pada masing-masing tingkatan adalah 10,8%MI , 16,4%MTS, dan 6,0%MA. Kontribusi APK tersebut tersebar berasal dari madrasah swasta pada masing-masing tingkatan.
Sumbangan lain dari madrasah dalam pembangunan pendidikan nasional adalah dalam penuntasan wajib belajar pendidikan dasar (wajar dikdas ) 9 tahun.perogram wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun pada pendidikan madrasah di kembangkan melalui madrasah ibtidaiyah (MI) dan madrasah tsanawiyah (MTS). Jumlah MI sebanyak 22.610 buah dengan 3.050.555 peserta didik jumlah MTS sebanyak 12.498 buah dengan 2.531.656 peserta didik.jumlah peserta didik  dalam program wajib belajar pendidikan 9 tahun terdiri dari 47,2 % peserta didik MI dan 31,8 peserta didik MTS  sisanya 21,0% peserta didik/santri pondok pesantren salafiyah.
Kontribusi madrasah terhadap penuntasan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun cukup lumayan besar mencapai 17% meskipun belum tercapai ,namun di harapkan sampai tahun 2009 dapat di tuntaskan.kriteria tuntas  adalah angka partisipasi kasar (APK) mengikuti pendidikan SMP atau madrasah tsanawiyah mencapai 95% sampai tahun 2008 baru mencapai sekitar 92.3% angka sisanya yaitu sekitar 2.7% di harapkan pada tahun 2009 dapat dicapai angaka partisipasi kasar pendidikan dasar 9 tahun hingga 95% artinya wajib belajar pendidikan dasar pendidikan dasar 9 tahun itu dianggap tuntas,meskipun 95% masih ada sisanya 5% angka 5% dari 50 juta anak usia sekolah bisa di katakan  tercecer,tetapi bisa di anggap selsai.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Perjalanan sejarah pendidikan islam di Indonesia hal ini karena lahirnya kerajaan  islam di Indonesia yang sangat mewarnai sejarah peislam di Indonesia terlebih-lebih agama islam di Indonesia pendidikan dan pengajaran islam bertambah maju dan penyebaran islam keseluruh pulau jawa maju pesat krena adanya bantuan pemerintahan dan pembesar-besar islam membelanya.
SARAN
Agar mengetahui sejarah pendidikan islam di Indonesia kita harus mempelajari sejarah-sejarahnya dengan kita mempelajarinya kita akan mengetahui informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam di Indonesia baik formal,informal  maupun nonformal.


DAFTAR PUSTAKA
Rukiati K Enung dan Hikmawati fenti 2006 sejarah pendidikan islam di Indonesia bandung:cv pustaka setia.
Yunus Mahmud 1993 sejarah pendidikan islam di Indonesia,Jakarta.




















 

menghapus butiran kecil air mata Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea